(8/8) cemburu
ku yakin ini hanya terjadi didalam kepalaku.
sepekan yang lalu, adalah minggu yang cukup dinamis dan berat untukku.
kembali ku merasa cemburu atas hal yang terjadi diluar kendali ku, biar ku coba urutkan satu per satu. tak banyak yang ku ingat, tapi kan ku buat highlight untuk menyemat isi kepalaku yang berantakan ini, semoga aku semakin bisa memahami.
akhirnya, ada seseorang yang ku pikir lebih menarik dan aktraktif daripadaku, bekerja berdampingan secara langsung dengan bimi. tentu saja khawatirku bukan main, tapi aku selalu berusaha mencoba membiasakan diri agar tidak sensi, karena itu bisa terjadi kapanpun dan dimanapun dalam perjalanan kami. sialnya hatiku belum cukup kuat untuk menghadapi kenyataan yang akhirnya hanya ada di kepalaku, yang kepalang terbakar rasa cemburu.
yang ku ingat hari itu, pertemuan pertama kami semua, di Sumber Uap – Majalengka dengan tujuan kerja sama. muncul seorang perempuan, datang dengan terlambat, namanya Cindy. tak perlu ku sebut bagaimana paras dan penampilannya, kupikir dia adalah salah satu kriteria pasangan paling dicari secara penampilan, ya, sampai situ cukup.
mengapa hal ini memberatkanku?
karena tentu saja aku tidak lebih cantik daripada dia! hahaha
ketidak percayaan diri akan penampilanku hari itu semakin menurun, jatuh jauh semakin dalam bersama ketidak mampuan. aku masih belum seperti apa yang kupikirkan selama ini, ternyata masih payah ketika merasa lelah lalu aku akan merasa bersalah.
kembali pada hari itu. aku belum mengenal jauh seperti perempuan itu, akupun tak mau menjatuhkan tuduhan apapun yang berkaitan dengan perasaan. dititik itu, yang kubisa hanya meyakinkan diri sendiri bahwa aku harus selalu mempercayai diri sendiri bahwa aku tak seburuk ini, dan akun akan mempercayai bimi lebih dalam lagi karena ia menyayangiku, dan karena tentu buatku, bimi adalah obat hati.
hal yang paling aku ingin jaga adalah diri sendiri, karena kupikir aku tahu bahwa ancaman terbesar dari ini semua adalah diriku sendiri. karena kuyakin akulah yang bisa menyakiti siapapun dengan maksud yang tidak logis dan bodoh. lalu ku telan mentah semua rasa cemburu sambil menahan peluru. aku tidak boleh jadi jahat lagi seperti dulu.
esoknya kami kembali bertemu di h-1, tak banyak hal yang mengganggu hari itu, lalu tiba lah kami pada hari H pernikahan yang jadi pekerjaan.
soal rasa cemburu, aku hanya ingat bahwa aku terus merasa takut mereka terus berdekatan karena pekerjaan, tanpaku. aku memahami tugas kami semua hari itu, kemana kami harus pergi, dengan siapa kami berkomunikasi yang ber-relasi dengan tugas kami. dan kupikir posisi bimi dan dia adalah yang paling rentan (rentan membuatku berantakan hahaha).
Cindy sendiri menurutku hari itu seperti banyak cari perhatian, terutama pada bimi, semoga saja memang seperti itu sifatnya, tanpa ada maksud mendekati bimi lebih jauh lagi hahaha.
sewaktu bekerja, ia menyentuh lakban-lakban yang tergantung dan posisinya dekat dengan paha kaki bimi, lalu bimi yang sepertinya hanya memberi perhatian kepadanya soal kimono dan nametag yang ia kenakan ketika kami akan pulang, sampai sesi evaluasi yang paling buatku patah hati. sempat kupikir kenapa ia berani melakukan itu semua tepat didepanku sehingga aku sampai dititik dimana aku merasa tak dihargai, tapi pada akhirnya aku berterima kasih aku ada saat itu terjadi, akhirnya aku semakin menilai dan kuharap semakin memahami hingga memaklumi, karena kami sedang berada di jam kerja.
aku berusaha mendekati Cindy, untuk mengenalinya lebih jauh lagi sebagai seorang teman dan ia jelas bukan ancaman. hal seperti ini bisa terjadi dimanapun, kapanpun dan pada siapapun tanpa sepengetahuan dan kuasaku. akupun sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri, karena sepertinya pola pikirku lebih dewasa darinya (kuharap begitu hahaha).
ingin ku keluhkan kenapa bimi harus jadi samplenya untuk membahas perihal respect yang menurutku terkandung unsur “memberi perhatian”? keparatnya bang uday memantik bercandaan yang dimana saat itu aku sudah mengutarakan keluh kesah dan berujung tangisku pecah. aku sudah lelah, sudah kepalang cemburu dari awal.
tapi aku selalu percaya, bahwa bimi sayang padaku, memahami apa yang ku maksud dari setiap buah pikirku, bahwa aku hanya tidak ingin menyakiti orang lain yang akhirnya berujung menyakiti diriku sendiri. aku harus semakin lapang hati dan luas pikir, dan aku menyayangi bimi sepenuhnya.
aku tak pernah mau mengekang dan melarang bimi untuk dekat secara fisik dengan perempuan lain siapapun itu, yang kubisa hanya memberitahu bimi bahwa ada afeksi yang tak bisa ku tolerir dan kan’ ku bilang jika aku hanya tidak suka, selebihnya, semua diluar kendaliku, kemana akhirnya pikiranku ini akan bermuara, semua kembali pada jalan kenyataannya.
yang sebaiknya ku jaga, adalah diriku sendiri.
Komentar
Posting Komentar